Bristol, Inggris, Bayi yang terlahir kurang oksigen bisa membuat otaknya rusak. Kini ada salah satu cara untuk mencegah kerusakan otak akibat kondisi tersebut, yaitu dengan memberikan gas xenon.
Sebuah rumah sakit di Inggris menjadi yang pertama di dunia dalam melakukan perawatan ini untuk mencegah bayi yang baru lahir mengalami cedera otak.
Bayi beruntung yang mendapatkan perawatan gas xenon tersebut adalah Riley Joyce yang mengalami gangguan kekurangan oksigen saat dilahirkan. Riley memiliki kemungkinan 50 persen luka permanen di otak yang dapat menyebabkan cacat seperti cerebral palsy.
Gas xenon yang diberikan tersebut berfungsi untuk menghambat kematian sel saraf yang nantinya dapat menyebabkan kerusakan di otak dan menimbulkan kecacatan.
Proses ini dilakukan di St Michael's Hospital, Bristol, Inggris. Di tempat ini para tim spesialis telah merintis teknik cara mencegah cedera otak pada bayi yang mengalami kekurangan oksigen saat lahir akibat komplikasi.
Gas xenon dapat meningkatkan efek pendinginan yang lebih baik dalam melindungi otak. Gas xenon ini sebelumnya telah digunakan pada orang dewasa yang menjalani operasi bypass jantung, tapi teknik ini belum pernah digunakan pada bayi yang baru lahir.
Prof Marianne Thoresen dan Dr James Tooley menstabilkan Riley pada suhu 33,5 derajat celsius, sebelum mesin pernapasan Riley terhubung ke sistem pengiriman xenon selama 3 jam.
Riley dijaga agar tetap dingin selama 72 jam, lalu secara perlahan mulai dihangatkan hingga akhirnya ia bisa bernapas secara normal tanpa bantuan mesin pada hari kelima.
"Setelah tujuh hari Riley mulai menunjukkan tanda-tanda kesadaran hingga bisa melihat wajah ibunya dan memegang kepalanya sambil menyusui," ujar Prof Thoresen, seperti dikutip dari Telegraph, Senin (12/4/2010).
Riley dikirim dari Royal United Hospital dalam kondisi kritis, yaitu tidak ada tanda detak jantung sehingga harus dihidupkan kembali. Saat dipindahkan ke rumah sakit di Bristol, gelombang otaknya sudah menunjukkan tanda-tanda abnormal.
Prof Marianne Thoresen menuturkan pada tahun 2002, John Dingley dan dirinya mulai menyadari potensi dari xenon dalam hal pendinginan yang memungkinkan mengurangi potensi kecacatan.
"Selama 8 tahun kami telah melakukan percobaan di laboratorium dan melihat efek perlindungan dari xenon dalam hal pendinginan otak. Namun tantangan yang harus dihadapi saat itu adalah bagaimana memberikan gas yang aman dan efektif pada bayi baru lahir," ujar Prof Thoresen.
Dr Dingley pun telah mengembangkan peralatan untuk anestesi xenon pada orang dewasa selama 10 tahun, dan kini ia telah berhasil menciptakan sebuah mesin yang dapat mengirimkan gas xenon pada bayi yang baru lahir.
Tidak adanya efek samping dan kemampuannya untuk melindungi otak membuat pengobatan ini menjadi potensial untuk diterapkan pada bayi.
(ver/ir)
Vera Farah Bararah - detikHealth
Senin, 17 Mei 2010
Bayi Baru Lahir Banyak Terkena Sifilis
Atlanta, Sifilis merupakan penyakit menular seksual yang biasanya banyak terjadi pada pria yang doyan gonta ganti pasangan. Tapi kini banyak pula bayi yang terlahir dengan sifilis karena tertular dari sang ibu.
Penyakit sifilis ini biasanya banyak terjadi pada pria gay atau biseksual. Namun, akhir-akhir ini juga diperburuk dengan banyaknya penularan di kalangan heteroseksual.
Menurut laporan pemerintahan AS, lebih banyak bayi di Amerika Serikat yang lahir dengan sifilis. Dan kebanyakan dari mereka terlahir dari ibu yang menggunakan kokain dan bekerja dalam perdagangan seks.
Sifilis adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Hal ini sering tidak menimbulkan gejala selama bertahun-tahun dan karena itu bisa ditularkan oleh orang yang tidak menyadari mereka terinfeksi.
Bila seorang ibu yang sedang hamil menderita sifilis, maka ada kemungkinan bayi dilahirkan akan mati, tuli, mengalami kerusakan saraf atau cacat tulang. Tetapi hal ini seharusnya bisa dicegah dengan pemberian antibiotik sebulan sebelum kelahiran pada ibu hamil.
"Tingkat sifilis bawaan pada bayi berusia di bawah 1 tahun meningkat sebesar 23 persen. Sebanyak 8,2 kasus dari 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2005, dan mencapai 10,1 pada tahun 2008," ujar tim Centre for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, seperti dilansir dari Health24, Senin (19/4/2010).
Menurut tim CDC, peningkatan itu juga diikuti dengan kenaikan 38 persen kasus pada perempuan berusia lebih dari 10 tahun. Dan kenaikan terbesar diantara kalangan perempuan berkulit hitam.
"Sifilis di kalangan perempuan kulit hitam telah dikaitkan dengan penggunaan kokain dan pekerja seks komersial (PSK). Kasus sifilis bawaan ini diperkirakan juga akan meningkat pada tahun-tahun mendatang," ujar tim CDC.
Sifilis primer yang ditularkan melalui hubungan seks, biasanya diawali dengan sakit tunggal yang disebut chancre.
Jika tidak diobati, pasien dapat mengalami ruam, demam, pembengkakan kelenjar getah bening dan gejala lainnya. Tahap akhir dari sifilis ditandai dengan kerusakan otak, saraf, mata, jantung, serta organ lainnya.
(mer/ir)
Merry Wahyuningsih - detikHealth
Penyakit sifilis ini biasanya banyak terjadi pada pria gay atau biseksual. Namun, akhir-akhir ini juga diperburuk dengan banyaknya penularan di kalangan heteroseksual.
Menurut laporan pemerintahan AS, lebih banyak bayi di Amerika Serikat yang lahir dengan sifilis. Dan kebanyakan dari mereka terlahir dari ibu yang menggunakan kokain dan bekerja dalam perdagangan seks.
Sifilis adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Hal ini sering tidak menimbulkan gejala selama bertahun-tahun dan karena itu bisa ditularkan oleh orang yang tidak menyadari mereka terinfeksi.
Bila seorang ibu yang sedang hamil menderita sifilis, maka ada kemungkinan bayi dilahirkan akan mati, tuli, mengalami kerusakan saraf atau cacat tulang. Tetapi hal ini seharusnya bisa dicegah dengan pemberian antibiotik sebulan sebelum kelahiran pada ibu hamil.
"Tingkat sifilis bawaan pada bayi berusia di bawah 1 tahun meningkat sebesar 23 persen. Sebanyak 8,2 kasus dari 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2005, dan mencapai 10,1 pada tahun 2008," ujar tim Centre for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, seperti dilansir dari Health24, Senin (19/4/2010).
Menurut tim CDC, peningkatan itu juga diikuti dengan kenaikan 38 persen kasus pada perempuan berusia lebih dari 10 tahun. Dan kenaikan terbesar diantara kalangan perempuan berkulit hitam.
"Sifilis di kalangan perempuan kulit hitam telah dikaitkan dengan penggunaan kokain dan pekerja seks komersial (PSK). Kasus sifilis bawaan ini diperkirakan juga akan meningkat pada tahun-tahun mendatang," ujar tim CDC.
Sifilis primer yang ditularkan melalui hubungan seks, biasanya diawali dengan sakit tunggal yang disebut chancre.
Jika tidak diobati, pasien dapat mengalami ruam, demam, pembengkakan kelenjar getah bening dan gejala lainnya. Tahap akhir dari sifilis ditandai dengan kerusakan otak, saraf, mata, jantung, serta organ lainnya.
(mer/ir)
Merry Wahyuningsih - detikHealth
Bayi Bisa Bedakan Mainan Berdasarkan Jenis Kelamin
Jakarta, Bisakah bayi membedakan mainan anak perempuan atau lelaki? Ternyata sangat bisa. Di sebuah ruangan yang diisi puluhan anak, bayi laki-laki akan lincah memilih mobil-mobilan sedangkan bayi perempuan dengan tenang mengambil boneka.
Sebelum anak bisa merangkak, kecenderungan yang terjadi memang seperti dugaan yang berkembang di masyarakat, bahwa anak laki-laki menyukai robot-robotan atau mobil dan perempuan mainan boneka.
Dalam studi ini peneliti memberikan tujuh mainan berbeda, dan didapati anak laki-laki lebih memilih mobil-mobilan, alat penggali dan bola serta mengabaikan boneka beruang. Sementara anak-anak perempuan memilih boneka beruang, mainan masak-masakan atau miniatur lainnya yang berwarna-warni.
"Diketahui bahwa anak laki-laki lebih memilih mainan yang bisa berjalan atau bergerak sedangkan anak perempuan menyukai mainan yang memiliki raut wajah atau berhubungan dengan pengasuhan," ujar Sara Amalie OToole Thommessen dari City University di London, seperti dikutip dari Health24, Selasa (20/4/2010).
Dalam studi ini melibatkan 83 anak yang berusia 9 bulan hingga 3 tahun dan diamati waktu bermainnya selama 3 menit. Sebelumnya, peneliti menyurvei 300 orang dewasa untuk menanyakan mainan apa yang terlintas di pikirannya pertama kali jika berhubungan dengan jenis kelamin. Sekitar 90 persen menjawab mobil untuk laki-laki dan boneka untuk perempuan.
"Kami sangat tertarik untuk melihat apakah anak laki-laki memiliki preferensi berbeda tentang warna. Kami menawarkan boneka beruang biru dan pink, tapi ternyata anak-anak ini tidak menunjukkan minat terhadap boneka beruang sama sekali," ujar Thommessen.
Berdasarkan studi ini didapati anak perempuan berusia 27-36 bulan sekitar 50 persennya tertarik dengan boneka dan anak laki-lakinya sekitar 87 persen tertarik dengan mobil dibandingkan bola.
Hasil ini meningkatkan persepsi pilihan mainan terhadap jenis kelamin yang pernah dilakukan pada studi tahun 2001. Namun dampak sosialisasi dan lingkungan juga tidak bisa diabaikan, karena pemilihan mainan anak-anak juga bisa berdasarkan apa yang sering dilihat oleh anak tersebut.
Saat masih bayi, seorang ayah akan cenderung lebih aktif mengajak bercanda anak laki-lakinya, sementara dengan anak perempuan lebih banyak menghabiskan waktu untuk berbicara. Saat bertambah usia laki-laki didorong lebih aktif mengeksplorasi lingkungan, sedangkan anak perempuan didorong untuk bermain dengan tenang.
Hal inilah yang membuat anak laki-laki lebih menyukai mobil, robot atau mainan bergerak lainnya, sedangkan perempuan lebih menyukai segala hal yang memiliki raut wajah atau permainan pengasuhan.
(ver/ir)
Vera Farah Bararah - detikHealth
Sebelum anak bisa merangkak, kecenderungan yang terjadi memang seperti dugaan yang berkembang di masyarakat, bahwa anak laki-laki menyukai robot-robotan atau mobil dan perempuan mainan boneka.
Dalam studi ini peneliti memberikan tujuh mainan berbeda, dan didapati anak laki-laki lebih memilih mobil-mobilan, alat penggali dan bola serta mengabaikan boneka beruang. Sementara anak-anak perempuan memilih boneka beruang, mainan masak-masakan atau miniatur lainnya yang berwarna-warni.
"Diketahui bahwa anak laki-laki lebih memilih mainan yang bisa berjalan atau bergerak sedangkan anak perempuan menyukai mainan yang memiliki raut wajah atau berhubungan dengan pengasuhan," ujar Sara Amalie OToole Thommessen dari City University di London, seperti dikutip dari Health24, Selasa (20/4/2010).
Dalam studi ini melibatkan 83 anak yang berusia 9 bulan hingga 3 tahun dan diamati waktu bermainnya selama 3 menit. Sebelumnya, peneliti menyurvei 300 orang dewasa untuk menanyakan mainan apa yang terlintas di pikirannya pertama kali jika berhubungan dengan jenis kelamin. Sekitar 90 persen menjawab mobil untuk laki-laki dan boneka untuk perempuan.
"Kami sangat tertarik untuk melihat apakah anak laki-laki memiliki preferensi berbeda tentang warna. Kami menawarkan boneka beruang biru dan pink, tapi ternyata anak-anak ini tidak menunjukkan minat terhadap boneka beruang sama sekali," ujar Thommessen.
Berdasarkan studi ini didapati anak perempuan berusia 27-36 bulan sekitar 50 persennya tertarik dengan boneka dan anak laki-lakinya sekitar 87 persen tertarik dengan mobil dibandingkan bola.
Hasil ini meningkatkan persepsi pilihan mainan terhadap jenis kelamin yang pernah dilakukan pada studi tahun 2001. Namun dampak sosialisasi dan lingkungan juga tidak bisa diabaikan, karena pemilihan mainan anak-anak juga bisa berdasarkan apa yang sering dilihat oleh anak tersebut.
Saat masih bayi, seorang ayah akan cenderung lebih aktif mengajak bercanda anak laki-lakinya, sementara dengan anak perempuan lebih banyak menghabiskan waktu untuk berbicara. Saat bertambah usia laki-laki didorong lebih aktif mengeksplorasi lingkungan, sedangkan anak perempuan didorong untuk bermain dengan tenang.
Hal inilah yang membuat anak laki-laki lebih menyukai mobil, robot atau mainan bergerak lainnya, sedangkan perempuan lebih menyukai segala hal yang memiliki raut wajah atau permainan pengasuhan.
(ver/ir)
Vera Farah Bararah - detikHealth
Benda-benda yang Paling Sering Ditelan Bayi
Jakarta, Pernahkah mendapati bayi Anda mengunyah tanah di halaman depan rumah atau menggigiti gorden? Jika tidak sedang mengajarinya bermain debus, sebaiknya awasi benda apa saja yang masuk ke mulut si bayi.
Di tahap awal perkembangannya, bayi memang suka memasukkan sesuatu ke dalam mulut mereka. Dalam teori psikoanalisis yang digagas Sigmund Freud, tahap ini dinamakan fase oral.
Pada tahap yang umumnya berlangsung hingga usia 1-2 tahun ini, bayi mendapatkan kepuasan lewat mulut mereka. Mulai dari menyusu, menggigit puting ibu, menelan makanan, hingga mengunyah benda apapun yang mereka pegang.
Mungkin masih wajar kalau yang dimasukkan mulut adalah pulpen atau jari mereka sendiri, selama benda-benda tersebut dalam keadaan bersih. Namun tak jarang mereka memasukkan benda-benda aneh, sehingga lebih baik kalau benar-benar diawasi.
Berikut ini adalah 4 macam benda aneh yang menarik perhatian adek bayi untuk dimasukkan ke dalam mulut mereka, dilansir dari Parenting, Senin (19/4/2010).
1. Krayon
Pada krayon, warna-warni adalah hal yang paling menarik bagi bayi. Yang perlu diperhatikan adalah kandungan yang ada, pastikan tidak beracun. Umumnya krayon untuk anak-anak memang tidak mengandung bahan beracun, sehingga jika tertelan kemungkinan hanya akan memberi sedikit 'warna-warni' pada kotoran bayi.
2. Kertas
Anda boleh jengkel jika yang dikunyah adalah novel kesayangan atau koran terbaru yang belum sempat dibaca headline-nya. Tapi jangan terlalu panik, kertas yang tertelan umumnya tidak mengganggu pencernaan. Asalkan tidak berlebihan dan tidak tercemar kotoran lain, kertas bisa dianggap sebagai serat tambahan.
3. Pup (kotorannya sendiri)
"Tentunya ini sangat menjijikkan, tetapi tidak terlalu mengkhawatirkan." ungkap Louis Borgenicht, M.D., pengarang buku The Baby Owner's Manual. Menurutnya, akan lebih berbahaya jika kotoran tersebut masuk ke mata, karena bisa menyebabkan pink-eye (conjunctivitis atau kemerahan disertai pembengkakan pada selaput
mata).
4. Koin
Uang logam maupun baut yang lepas dari mainan bisa menarik perhatian bayi. Logam tertentu jika tidak kotor oleh pelumas mungkin tidak beracun, tetapi sangat berbahaya jika sampai tertelan. Segera hubungi dokter untuk mendapat penanganan yang tepat.
(up/ir)
AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Di tahap awal perkembangannya, bayi memang suka memasukkan sesuatu ke dalam mulut mereka. Dalam teori psikoanalisis yang digagas Sigmund Freud, tahap ini dinamakan fase oral.
Pada tahap yang umumnya berlangsung hingga usia 1-2 tahun ini, bayi mendapatkan kepuasan lewat mulut mereka. Mulai dari menyusu, menggigit puting ibu, menelan makanan, hingga mengunyah benda apapun yang mereka pegang.
Mungkin masih wajar kalau yang dimasukkan mulut adalah pulpen atau jari mereka sendiri, selama benda-benda tersebut dalam keadaan bersih. Namun tak jarang mereka memasukkan benda-benda aneh, sehingga lebih baik kalau benar-benar diawasi.
Berikut ini adalah 4 macam benda aneh yang menarik perhatian adek bayi untuk dimasukkan ke dalam mulut mereka, dilansir dari Parenting, Senin (19/4/2010).
1. Krayon
Pada krayon, warna-warni adalah hal yang paling menarik bagi bayi. Yang perlu diperhatikan adalah kandungan yang ada, pastikan tidak beracun. Umumnya krayon untuk anak-anak memang tidak mengandung bahan beracun, sehingga jika tertelan kemungkinan hanya akan memberi sedikit 'warna-warni' pada kotoran bayi.
2. Kertas
Anda boleh jengkel jika yang dikunyah adalah novel kesayangan atau koran terbaru yang belum sempat dibaca headline-nya. Tapi jangan terlalu panik, kertas yang tertelan umumnya tidak mengganggu pencernaan. Asalkan tidak berlebihan dan tidak tercemar kotoran lain, kertas bisa dianggap sebagai serat tambahan.
3. Pup (kotorannya sendiri)
"Tentunya ini sangat menjijikkan, tetapi tidak terlalu mengkhawatirkan." ungkap Louis Borgenicht, M.D., pengarang buku The Baby Owner's Manual. Menurutnya, akan lebih berbahaya jika kotoran tersebut masuk ke mata, karena bisa menyebabkan pink-eye (conjunctivitis atau kemerahan disertai pembengkakan pada selaput
mata).
4. Koin
Uang logam maupun baut yang lepas dari mainan bisa menarik perhatian bayi. Logam tertentu jika tidak kotor oleh pelumas mungkin tidak beracun, tetapi sangat berbahaya jika sampai tertelan. Segera hubungi dokter untuk mendapat penanganan yang tepat.
(up/ir)
AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Infeksi Pernapasan 'Pencabut Nyawa' Balita
Edinburgh, Dari banyak faktor penyebab kematian balita seperti kurang gizi, pneumonia, diare ternyata infeksi pernafasan juga berperan besar. Penyakit ini bagai 'dewa pencabut' nyawa balita.
Sebanyak 200 ribu anak di bawah usia 5 tahun meninggal setiap tahunnya di seluruh dunia karena infeksi akut dari respiratory syncytial virus (RSV).
Peneliti meminta adanya pencegahan dan strategi pengobatan baru untuk mengurangi penyebab utama kematian anak-anak ini.
Diperkirakan setidaknya ada 3,4 juta anak yang mengalami infeksi berat ini dan membutuhkan bantuan perawatan di rumah sakit. Dari jumlah itu sekitar 66 ribu hingga 199 ribu anak-anak meninggal yang hampir 99 persennya terjadi di negara berkembang.
"Secara menyeluruh, RSV adalah penyebab utama kematian anak akibat ALRI (infeksi saluran pernapasan akut rendah (acute lower-respiratory tract infections/ALRIs) setelah pneumonia dan Haemophilus influenzae tipe b," ujar Dr Harish Nair dari Center for Population Health Sciences di University of Edinburgh, seperti dikutip dari HealthDay, Senin (19/4/2010).
RSV sangat menular dan bisa menyebar melalui tetesan yang mengandung virus ketika seseorang batuk atau bersin. Virus ini juga dapat hidup pada permukaan seperti meja atau gagang pintu serta pada tangan dan pakaian.
Penularan virus ini sangat mudah jika anak menyentuh barang-barang yang terkontaminasi itu. Selain itu RSV dapat menyebar dengan cepat di sekolah atau pusat penitipan anak. Setidaknya hampir semua anak pernah terinfeksi RSV satu kali saat berusia 2 tahun.
Rasio kematian kasus pada anak-anak di negara berpenghasilan tinggi sekitar 0,7 persen pada anak di bawah 1 tahun dan 0,3 persen pada anak di bawah usia 5 tahun.
Tapi rasio pada negara berkembang adalah 2,1 persen untuk anak-anak di bawah 1 tahun dan 2,1 persen juga pada anak di bawah usia 5 tahun.
Hasil penelitian ini telah dipublikasikan secara online sejak tanggal 16 April lalu dan akan diterbitkan dalam majalah The Lancet edisi mendatang.
(ver/ir)
Vera Farah Bararah - detikHealth
Sebanyak 200 ribu anak di bawah usia 5 tahun meninggal setiap tahunnya di seluruh dunia karena infeksi akut dari respiratory syncytial virus (RSV).
Peneliti meminta adanya pencegahan dan strategi pengobatan baru untuk mengurangi penyebab utama kematian anak-anak ini.
Diperkirakan setidaknya ada 3,4 juta anak yang mengalami infeksi berat ini dan membutuhkan bantuan perawatan di rumah sakit. Dari jumlah itu sekitar 66 ribu hingga 199 ribu anak-anak meninggal yang hampir 99 persennya terjadi di negara berkembang.
"Secara menyeluruh, RSV adalah penyebab utama kematian anak akibat ALRI (infeksi saluran pernapasan akut rendah (acute lower-respiratory tract infections/ALRIs) setelah pneumonia dan Haemophilus influenzae tipe b," ujar Dr Harish Nair dari Center for Population Health Sciences di University of Edinburgh, seperti dikutip dari HealthDay, Senin (19/4/2010).
RSV sangat menular dan bisa menyebar melalui tetesan yang mengandung virus ketika seseorang batuk atau bersin. Virus ini juga dapat hidup pada permukaan seperti meja atau gagang pintu serta pada tangan dan pakaian.
Penularan virus ini sangat mudah jika anak menyentuh barang-barang yang terkontaminasi itu. Selain itu RSV dapat menyebar dengan cepat di sekolah atau pusat penitipan anak. Setidaknya hampir semua anak pernah terinfeksi RSV satu kali saat berusia 2 tahun.
Rasio kematian kasus pada anak-anak di negara berpenghasilan tinggi sekitar 0,7 persen pada anak di bawah 1 tahun dan 0,3 persen pada anak di bawah usia 5 tahun.
Tapi rasio pada negara berkembang adalah 2,1 persen untuk anak-anak di bawah 1 tahun dan 2,1 persen juga pada anak di bawah usia 5 tahun.
Hasil penelitian ini telah dipublikasikan secara online sejak tanggal 16 April lalu dan akan diterbitkan dalam majalah The Lancet edisi mendatang.
(ver/ir)
Vera Farah Bararah - detikHealth
Mati Karena Tersedak Mengancam Balita
Jakarta, Anak-anak usia di bawah 3 tahun paling senang memasukkan sesuatu ke dalam mulut karena dari situlah mereka mendapat kepuasan. Efek negatifnya, anak-anak berisiko mati karena tersedak.
Leher tersedak terjadi ketika ada benda asing yang masuk dan menghambat saluran pernafasan sehingga anak seperti tercekik. Benda apapun yang ukurannya bisa masuk ke mulut anak sangat mungkin tertelan, lalu tersangkut di aliran pernafasan dan menyebabkan tersedak.
Data Centers for Disease Control (CDC) seperti dilansir ilansir dari Healthday, Selasa (20/5/2010), menyebutkan 60 persen kasus tersedak disebabkan oleh makanan. 31 persen oleh benda lain yang bukan makanan, dan 9 persen lagi penyebabnya tidak tercatat.
Saat tersedak, umumnya anak memberi tanda dengan meletakkan tangannya di leher. Tanda lain yang mungkin menyertai antara lain:
Anak yang tersedak harus segera mendapat pertolongan, karena akibat yang ditimbulkan bisa sangat fatal. Selama saluran nafas tersumbat, suplai oksigen ke otak terhambat dan bisa meyebabkan kematian.
Palang Merah Internasional merekomendasikan pendekatan five-and-five pada pertolongan pertama pada kasus tersedak.
1. Beri 5 tepukan di punggung menggunakan telapak tangan, tepat di antara tulang belikat
2. Beri 5 tekanan di daerah perut dengan metode Heimlich maneuver.
3. Lakukan bergantian 2 langkah di atas, berulang-ulang hingga benda yang menyebabkan tercekik keluar.
Jangankan balita yang belum tahu mana yang berbahaya dan tidak, orang dewasa pun kadang mengalami peristiwa mati karena tersedak.
Tersedak bisa terjadi saat seseorang minum atau makan dengan cepat atau terburu-buru dan dalam jumlah yang banyak, saat makanan secara tidak sengaja terhirup ketika sedang tertawa atau menangis dan keracunan alkohol akut terutama saat kemampuan menelan dan mengunyah sudah lemah.
Saat seseorang tersedak jalur pernafasan terhambat sehingga tidak ada oksigen yang masuk ke dalam paru-paru. Otak akan sangat sensitif jika asupan oksigen berkurang dan lama kelamaan akan mulai mati dalam waktu antara 4 jam sampai 6 jam. Disinilah pentingnya pertolongan pertama.
(up/ir)
AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Leher tersedak terjadi ketika ada benda asing yang masuk dan menghambat saluran pernafasan sehingga anak seperti tercekik. Benda apapun yang ukurannya bisa masuk ke mulut anak sangat mungkin tertelan, lalu tersangkut di aliran pernafasan dan menyebabkan tersedak.
Data Centers for Disease Control (CDC) seperti dilansir ilansir dari Healthday, Selasa (20/5/2010), menyebutkan 60 persen kasus tersedak disebabkan oleh makanan. 31 persen oleh benda lain yang bukan makanan, dan 9 persen lagi penyebabnya tidak tercatat.
Saat tersedak, umumnya anak memberi tanda dengan meletakkan tangannya di leher. Tanda lain yang mungkin menyertai antara lain:
- Tidak mampu bicara
- Sulit bernafas atau nafasnya bersuara
- Tidak bisa batuk
- Bibir, kulit dan menghitam
- Kehilangan kesadaran atau pingsan
Anak yang tersedak harus segera mendapat pertolongan, karena akibat yang ditimbulkan bisa sangat fatal. Selama saluran nafas tersumbat, suplai oksigen ke otak terhambat dan bisa meyebabkan kematian.
Palang Merah Internasional merekomendasikan pendekatan five-and-five pada pertolongan pertama pada kasus tersedak.
1. Beri 5 tepukan di punggung menggunakan telapak tangan, tepat di antara tulang belikat
2. Beri 5 tekanan di daerah perut dengan metode Heimlich maneuver.
3. Lakukan bergantian 2 langkah di atas, berulang-ulang hingga benda yang menyebabkan tercekik keluar.
Jangankan balita yang belum tahu mana yang berbahaya dan tidak, orang dewasa pun kadang mengalami peristiwa mati karena tersedak.
Tersedak bisa terjadi saat seseorang minum atau makan dengan cepat atau terburu-buru dan dalam jumlah yang banyak, saat makanan secara tidak sengaja terhirup ketika sedang tertawa atau menangis dan keracunan alkohol akut terutama saat kemampuan menelan dan mengunyah sudah lemah.
Saat seseorang tersedak jalur pernafasan terhambat sehingga tidak ada oksigen yang masuk ke dalam paru-paru. Otak akan sangat sensitif jika asupan oksigen berkurang dan lama kelamaan akan mulai mati dalam waktu antara 4 jam sampai 6 jam. Disinilah pentingnya pertolongan pertama.
(up/ir)
AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Bayi yang Dibiarkan Nangis Terlalu Lama, Otaknya Bisa Rusak
London, Saat bayi baru mulai menangis, ada orangtua yang terkadang membiarkannya dulu baru setelah itu menolongnya. Tapi bayi yang sering dibiarkan menangis terlalu lama bisa memiliki masalah dalam pengembangan otaknya.
Penelope Leach, seorang pakar kesehatan anak menemukan bayi yang tertekan berkali-kali dan dibiarkan menangis lama berisiko mengembangkan masalah di kemudian hari.
Studi membuktikan otak bayi yang dibiarkan menangis untuk jangka waktu lama, berisiko mengalami kerusakan dalam perkembangannya yang dapat mengurangi kapasitasnya untuk belajar.
"Ini bukan sekedar pendapat, tapi sebuah fakta bahwa membiarkan bayi menangis berpotensi merusak otaknya. Jadi mengapa harus mengambil risiko seperti itu?" ujar Leach, seperti dikutip dari Independent, Jumat (23/4/2010).
Apa yang diungkapkan oleh Leach ini menimbulkan kontroversi dengan seorang guru Gina Ford yang secara ketat menerapkan metode untuk membiarkan bayi menangis selama 20 menit.
Gina menyarankan orangtua baru untuk membiarkan bayinya menangis agar si bayi mendapatkan pembelajaran mental untuk bisa tidur dengan sendirinya.
"Seorang bayi yang sudah terlalu lama menangis pada akhirnya akan berhenti. Hal ini bukan karena ia telah belajar untuk tidur sendirian, tapi karena ia kelelahan dan telah putus asa untuk mendapatkan bantuan," ungkap Leach.
Tapi Lech punya argumen bahwa menangis itu adalah satu-satunya cara bayi untuk memberikan sinyal ketika merasa tidak nyaman atau tertekan.
Jika bayi semakin keras menangis menunjukkan ia sedang stres, dan stres yang akut bisa menyebabkan reaksi hormonal berantai yang pada akhirnya dapat merangsang kelenjar adrenalin untuk melepaskan hormon stres.
Menurut Lech, jika kejadian ini berlangsung terus menerus maka bisa menghasilkan banyak hormon stres yang dapat merusak otak bayi.
"Hal ini bukan berarti bayi tidak boleh menangis atau orangtua menjadi khawatir jika semua bayinya menangis. Karena bukan menangis yang buruk untuk bayi, tapi menangis yang tidak mendapatkan responslah yang bisa berakibat buruk," kata Lech.
Hal tersebut diamini oleh Anastasia Baker, seorang direktur Night Nanny yang mengungkapkan tak ada salahnya untuk meninggalkan bayi menangis selama beberapa menit. Tapi yang bermasalah adalah jika orangtua membiarkan bayinya menangis terlalu lama hingga si bayi tertidur.
"Jelas tidak ada yang menganjurkan untuk meninggalkan bayi menangis dalam waktu lama. Tapi saya rasa Anda dapat meninggalkan bayi beberapa menit lalu mendatanginya untuk menenangkannya. Hasil ini telah menunjukkan bahwa dengan menggunakan teknik ini dapat membantu mengatasi masalah tidur pada anak dan memiliki efek yang sangat positif pada kehidupan keluarganya," ujar Mandy Gurney, pendiri Millpond Sleep Clinic.
Jadi jika mendengar bayi Anda menangis, sebaiknya tak membiarkannya menangis untuk waktu yang terlalu lama. Karena hal ini bisa berdampak bagi perkembangan otaknya akibat hormon stres yang dihasilkan terlalu tinggi.
(ver/ir)
Vera Farah Bararah - detikHealth
Penelope Leach, seorang pakar kesehatan anak menemukan bayi yang tertekan berkali-kali dan dibiarkan menangis lama berisiko mengembangkan masalah di kemudian hari.
Studi membuktikan otak bayi yang dibiarkan menangis untuk jangka waktu lama, berisiko mengalami kerusakan dalam perkembangannya yang dapat mengurangi kapasitasnya untuk belajar.
"Ini bukan sekedar pendapat, tapi sebuah fakta bahwa membiarkan bayi menangis berpotensi merusak otaknya. Jadi mengapa harus mengambil risiko seperti itu?" ujar Leach, seperti dikutip dari Independent, Jumat (23/4/2010).
Apa yang diungkapkan oleh Leach ini menimbulkan kontroversi dengan seorang guru Gina Ford yang secara ketat menerapkan metode untuk membiarkan bayi menangis selama 20 menit.
Gina menyarankan orangtua baru untuk membiarkan bayinya menangis agar si bayi mendapatkan pembelajaran mental untuk bisa tidur dengan sendirinya.
"Seorang bayi yang sudah terlalu lama menangis pada akhirnya akan berhenti. Hal ini bukan karena ia telah belajar untuk tidur sendirian, tapi karena ia kelelahan dan telah putus asa untuk mendapatkan bantuan," ungkap Leach.
Tapi Lech punya argumen bahwa menangis itu adalah satu-satunya cara bayi untuk memberikan sinyal ketika merasa tidak nyaman atau tertekan.
Jika bayi semakin keras menangis menunjukkan ia sedang stres, dan stres yang akut bisa menyebabkan reaksi hormonal berantai yang pada akhirnya dapat merangsang kelenjar adrenalin untuk melepaskan hormon stres.
Menurut Lech, jika kejadian ini berlangsung terus menerus maka bisa menghasilkan banyak hormon stres yang dapat merusak otak bayi.
"Hal ini bukan berarti bayi tidak boleh menangis atau orangtua menjadi khawatir jika semua bayinya menangis. Karena bukan menangis yang buruk untuk bayi, tapi menangis yang tidak mendapatkan responslah yang bisa berakibat buruk," kata Lech.
Hal tersebut diamini oleh Anastasia Baker, seorang direktur Night Nanny yang mengungkapkan tak ada salahnya untuk meninggalkan bayi menangis selama beberapa menit. Tapi yang bermasalah adalah jika orangtua membiarkan bayinya menangis terlalu lama hingga si bayi tertidur.
"Jelas tidak ada yang menganjurkan untuk meninggalkan bayi menangis dalam waktu lama. Tapi saya rasa Anda dapat meninggalkan bayi beberapa menit lalu mendatanginya untuk menenangkannya. Hasil ini telah menunjukkan bahwa dengan menggunakan teknik ini dapat membantu mengatasi masalah tidur pada anak dan memiliki efek yang sangat positif pada kehidupan keluarganya," ujar Mandy Gurney, pendiri Millpond Sleep Clinic.
Jadi jika mendengar bayi Anda menangis, sebaiknya tak membiarkannya menangis untuk waktu yang terlalu lama. Karena hal ini bisa berdampak bagi perkembangan otaknya akibat hormon stres yang dihasilkan terlalu tinggi.
(ver/ir)
Vera Farah Bararah - detikHealth
Langganan:
Postingan (Atom)